Dari Bengkel Kampus ke Pabrik Industri: Implementasi Teaching Factory di TRM UNTAG Surabaya

Rabu, 11 Februari 2026 - 09:51:29 WIB
Dibaca: 8 kali

Surabaya – Kesenjangan antara pembelajaran di kampus dan kebutuhan nyata di industri menjadi salah satu tantangan utama pendidikan vokasi. Untuk menjembatani hal tersebut, Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Manufaktur (TRM) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menerapkan model pembelajaran Teaching Factory sebagai pendekatan utama dalam proses pendidikan terapan. Model ini dirancang untuk menghadirkan suasana kerja industri ke dalam lingkungan kampus, sehingga mahasiswa terbiasa dengan alur kerja, standar mutu, dan budaya kerja yang berlaku di dunia industri.

Teaching Factory di TRM UNTAG Surabaya tidak hanya memanfaatkan fasilitas bengkel dan laboratorium sebagai tempat praktikum, tetapi dikembangkan sebagai ruang simulasi proses produksi. Mahasiswa mengerjakan proyek berbasis kebutuhan nyata, mulai dari perencanaan pekerjaan, penyiapan alat dan material, pelaksanaan proses manufaktur, hingga evaluasi kualitas hasil kerja. Seluruh tahapan tersebut dilakukan dengan mengacu pada prosedur operasional standar yang menyerupai praktik di industri.

Melalui Teaching Factory, mahasiswa dilatih untuk memahami pentingnya perencanaan proses dan pengendalian mutu. Setiap pekerjaan tidak hanya dinilai dari hasil akhir, tetapi juga dari ketepatan prosedur, efisiensi waktu, serta kepatuhan terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Pendekatan ini membentuk kebiasaan kerja yang sistematis dan bertanggung jawab, yang sangat dibutuhkan di lingkungan industri manufaktur.

Selain aspek teknis, Teaching Factory juga berperan dalam pembentukan soft skills mahasiswa. Mahasiswa terbiasa bekerja dalam tim dengan pembagian peran yang jelas, berkomunikasi secara profesional, serta menyelesaikan tugas berdasarkan target yang telah ditentukan. Dinamika kerja dalam Teaching Factory mendorong mahasiswa untuk mengelola waktu, beradaptasi dengan peran yang berbeda, serta menghadapi tekanan pekerjaan secara konstruktif.

Implementasi Teaching Factory juga membuka ruang kolaborasi yang lebih erat antara kampus dan industri. Melalui keterlibatan mitra industri dalam perancangan proyek atau pemberian masukan terhadap standar kerja, proses pembelajaran di TRM UNTAG Surabaya dapat terus diselaraskan dengan kebutuhan lapangan. Umpan balik dari industri menjadi dasar penting dalam pengembangan kurikulum dan peningkatan kualitas pembelajaran terapan.

Dengan pendekatan Teaching Factory, mahasiswa TRM tidak hanya memahami konsep rekayasa manufaktur, tetapi juga mengalami langsung proses kerja yang menyerupai lingkungan pabrik. Pengalaman ini membantu mengurangi kesenjangan adaptasi saat mahasiswa memasuki dunia kerja setelah lulus. Lulusan diharapkan memiliki kesiapan mental, teknis, dan etos kerja yang lebih kuat untuk berkontribusi di sektor industri manufaktur.

Melalui penguatan Teaching Factory, TRM UNTAG Surabaya menegaskan komitmennya dalam menyiapkan lulusan sarjana terapan yang kompeten, profesional, dan relevan dengan kebutuhan industri. Kampus tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi wahana pembentukan budaya kerja industri bagi mahasiswa sejak dini.